Kalau bukan karena kata
kita hanyalah "jago kate, wanine cedhak omahe"
Kalau bukan karena kata
kita ini siapa?
"Who are we?"
"Who am I?"
mistery of Mr. W and Mr. I
Kalau bulan karena kata
kita ini sia-sia, kata siapa?
Kalau bukan karena kata
apakah sabda alam lebih indah daripada diam seribu arca
Kalau jadi korban kata
kita hanyalah katak dalam tempurung
yang berteriak-teriak haus disanjung
segala kehendak tiada yang agung
Gunungkidul, 8 Agustus 2012
Kamis, 01 November 2012
INSTING EINSTEIN
Dari wajahmu aku belajar mengenalmu,
Bukan sekedar Einstein, namun juga insting
Bukan sekedar energi kekekalan massa, namun juga energi kekebalan rasa
Bukan sekedar hitam putih di kumismu, namun juga jalan tengah abu-abumu
Aku belajar mengenalmu di lorong tak berpintu
Berjibun huruf, angka, simbol-simbol dalam otakku yang satu
Bukan terdorong oleh nafsu, namun insting
Terjebak di kedalaman ruang dan waktu
Underpass UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 29 Oktober 2012.
Bukan sekedar Einstein, namun juga insting
Bukan sekedar energi kekekalan massa, namun juga energi kekebalan rasa
Bukan sekedar hitam putih di kumismu, namun juga jalan tengah abu-abumu
Aku belajar mengenalmu di lorong tak berpintu
Berjibun huruf, angka, simbol-simbol dalam otakku yang satu
Bukan terdorong oleh nafsu, namun insting
Terjebak di kedalaman ruang dan waktu
Underpass UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 29 Oktober 2012.
Senin, 02 Juli 2012
DENDANG ALAM BAKA
Petang kita menanti malam
terang langit kita akan berganti kelam
lampu-lampu mulai dinyalakan
jadi hiasan penuh tipuan
Dendang kita kinanti alam
terbang melayang lantunkan kegalauan
empu-empu mulai dikerahkan ciptakan keris tak terkalahkan,
meski akhirnya mereka mati jadi tumbal kekuasaan
Tentang kita pasti tenggelam
raga kita raga pinjaman
antri untuk dikembalikan, walau tak mengerti : kapan?
walau di bumi kita kuasa ciptakan kemaharajaan
kita mesti percaya, usia kita tinggal hitungan yang tersisa
Kraton Ratu Boko (Prambanan, Sleman, D.I. Yogyakarta)
1 Juli 2012
terang langit kita akan berganti kelam
lampu-lampu mulai dinyalakan
jadi hiasan penuh tipuan
Dendang kita kinanti alam
terbang melayang lantunkan kegalauan
empu-empu mulai dikerahkan ciptakan keris tak terkalahkan,
meski akhirnya mereka mati jadi tumbal kekuasaan
Tentang kita pasti tenggelam
raga kita raga pinjaman
antri untuk dikembalikan, walau tak mengerti : kapan?
walau di bumi kita kuasa ciptakan kemaharajaan
kita mesti percaya, usia kita tinggal hitungan yang tersisa
Kraton Ratu Boko (Prambanan, Sleman, D.I. Yogyakarta)
1 Juli 2012
Senin, 12 Maret 2012
Manusia Mewujud Dalam Sujud
Oleh : Margita Widiyatmaka
Hanya dengan berwujud, manusia membangun cara bersujud
monumen-monumen, kuil-kuil suci, klenteng-klenteng, candi-candi,
gereja-gereja, hingga masjid-masjid
doa-doa dalam agama, puisi religi, tarian sufi,
musik klasik, hingga musik dangdut, dan semua nyanyian bernuansa sujud
adalah wujud keberadaan manusia yang membudaya
budayakan diri, budayakan dunia di luar diri
berdayakan diri, tanam pohon ikhtiar
sabar, menanti pasrah
syukur, memanen berkah
mengubah alam kodrat, adab dan peradaban terpahat
Manusia mewujud, sadar “ada”
keberadaan mereka tak sekedar berada, tetapi mengada
setiap kata yang mereka cipta itulah gambaran mengada
setiap konstruksi yang mereka bangun itulah pencitraan keadaan
yang manjakan mimpi-mimpi dengan resepsi dan pesta berbunga imitasi
yang menyulap penderitaan jadi kegembiraan dan kekuatan
yang mengharap cinta tak hilang dari mata dan berkesan selamanya
menangis tersedu-sedan, karena cinta semata kepada Sang Pencipta tak tertahan
Manusia mewujud, mendalam bersujud
senantiasa berikhtibar, lantunkan Tuhan yang akbar
kehormatan dan kemuliaan mereka ada dalam sujud
mewujud itu kesadaran mewajib bersujud
kesujudan mereka, kesetiaan yang mengalir tertib
Hakekat mewujud, kembara bersujud
suara batin, rambu perjalanan hidup
pengendali kehendak dalam bertindak
penyeru cinta untuk tidak atau lakukan sesuatu
sebelum langkah maju, bimbang-ragu ditimbang-diteraju
sesal di awal, ingat di asal; sesal kemudian, kesia-siaan
nada terjalin terdengar lamat : “kembalikan iman, tujuan selamat”
Yogyakarta, Februari 2012
Selasa, 28 Februari 2012
Imaji Satriya Mataram
Oleh : Margita Widiyatmaka
Tak pernah padam semangat membangun api-Merapi
pandang Tugu, lambang tekad suci bersatu-padu
laku utama lalui Malioboro dengan obor penerang agama
mengantar kesetiaan cita-cita mulia
Sungguh pelik menuju Sang Kholik
gelombang dahsyat kehidupan menghadang di Alun-alun Utara
setelah terlewat, sabar menanti di Bangsal Sri Manganti
segala baik-buruk ditakar-dikupas di Bangsal Traju Mas
celaka terpuruk menuju asal, tiada guna tangis dan sesal
tanpa bekal ilmu, iman dan amal
Panggung Krapyak, lambang “Yoni” di lebak pinggul
di utaranya, kampung Mijen, lumbung benih manusia unggul
Tugu, lambang “Lingga” di puncak “kenthos” tersembul
api- Merapi, tanah bumi Kraton, air –Laut Selatan, angin dan angkasa
dan hingar-bingar pasar, penggerak roda ekonomi rakyat
bentuk garis imajiner simbolis filosofis Merapi-Tugu-Kraton-Panggung Krapyak-Laut Selatan
keseimbangan manusia - Tuhan, manusia - manusia, manusia - alam
kebersatuan rakyat - penguasa, hamba - Tuhan Maha Kuasa
dalam roh Tugu yang golong-gilig, saling tolong, saling tarik
jadi sinergi teracik apik, semangat membangun, semangat epik
Tak kenal lelah mengejawantah
ukir nama, hiasan sejarah
SATRIYA MATARAM berkiprah dalam bingkai Indonesia Jaya
Selaras : senantiasa laras dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia
Akal Budi Luhur : ada bekal di benak budidaya kehendak jati diri adi
Teladan : panutan perilaku pibadi terpuji, dianut-runut penuh kesadaran
Rela Melayani : tanpa paksaan dan tekanan memberi pelayanan lebih tanpa pilih kasih
Inovatif : pembaharu yang tak pernah merasa jadi guru bagi kemajuan kelompok dan individu
Yakin dan Percaya Diri : resapi dan jalani pekerjaan penuh konsentrasi dan semangat di dada
Ahli-Profesional : kompeten, komitmen, dan prestasi jadi kunci penyelesaian pekerjaan
Mandiri : mantap sebagai pribadi di atas kaki sendiri
Asah : mengasah akal dan nurani sebagai bekal mati
Tertib : berkehendak dan bertindak sesuai aturan dan norma yang berlaku
Asih : penuh empati dan kasih-sayang kepada sesama
Religius : patuh pada ajaran agama dan nilai-nilai spiritual
Adiluhung : unggul dan mulia sebagai manusia
Mabrur : diterima Tuhan Yang Maha Kuasa
Yogyakarta, Februari 2012.
Jumat, 24 Februari 2012
Mengenal Cinta-Mu
Oleh : Margita Widiyatmaka
Sejak mengenal cinta-Mu
sajak alirkan laut tinta-Mu tergerak dari pohon pena-Mu
bijak amalkan firman-Mu tergerak cari ridha-Mu
Sejak mengenal cinta-Mu
tidak terjebak pada lautan cinta palsu
yang meminta-minta kerna ada mau
yang merintih-rintih kerna ada nafsu
kesetiaan tumbuh atas dasar kepercayaan, bukan atas dasar keterpaksaan
keberdayaan pulih atas dasar kasih, bukan atas dasar kekuasaan an sich
kebudayaan "linuwih" atas dasar melihat, menulis dan mewujudkan kasih
Sejak mengenal cinta-Mu
menatap batu bagaikan melihat sesuatu
mengeja kata, pahatan waktu
dunia terbaca, lukisan terpadu
hasrat berkaca kian terpacu
Sejak mengenal cinta-Mu
berkata "tidak" tak perlu malu, kalau memang tidak ada sesuatu
berkata "ya" tak usah ragu, kalau memang kejadian seperti itu
genderang perang bertalu-talu, gemerincing pedang siap beradu
hadang korupsi tak bulu pandang, meski sulit terpegang bagai kecoak terbang
atau kadang tersembunyi di ketiak para bintang, tertutup tali kotang
atau selendang cinta palsu yang menggoyang kemaluan kita jadi manusia hina
Gunungkidul, 24 Februari 2012
Sejak mengenal cinta-Mu
sajak alirkan laut tinta-Mu tergerak dari pohon pena-Mu
bijak amalkan firman-Mu tergerak cari ridha-Mu
Sejak mengenal cinta-Mu
tidak terjebak pada lautan cinta palsu
yang meminta-minta kerna ada mau
yang merintih-rintih kerna ada nafsu
kesetiaan tumbuh atas dasar kepercayaan, bukan atas dasar keterpaksaan
keberdayaan pulih atas dasar kasih, bukan atas dasar kekuasaan an sich
kebudayaan "linuwih" atas dasar melihat, menulis dan mewujudkan kasih
Sejak mengenal cinta-Mu
menatap batu bagaikan melihat sesuatu
mengeja kata, pahatan waktu
dunia terbaca, lukisan terpadu
hasrat berkaca kian terpacu
Sejak mengenal cinta-Mu
berkata "tidak" tak perlu malu, kalau memang tidak ada sesuatu
berkata "ya" tak usah ragu, kalau memang kejadian seperti itu
genderang perang bertalu-talu, gemerincing pedang siap beradu
hadang korupsi tak bulu pandang, meski sulit terpegang bagai kecoak terbang
atau kadang tersembunyi di ketiak para bintang, tertutup tali kotang
atau selendang cinta palsu yang menggoyang kemaluan kita jadi manusia hina
Gunungkidul, 24 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)