Oleh : Margita Widiyatmaka
Sungai-sungai yang mengukir batu, yang menembus jantung gunungku
adalah darah alamku
adalah jiwa hutanku
berkelak-kelok menyimpan goresan masa lalu
Sungai-sungai adalah lukisan rasa dan pikiran bumiku, yang timbul
dan tenggelam dalam hidup dan keseharian penghuninya
Gunungkidul, Nopember 1991.
Kamis, 28 Juli 2011
SKETSA ALAM
Oleh : Margita Widiyatmaka
Air di mata penyair adalah kata-kata
bila ia mengalir menembus jantung gunung, itulah renungan suatu
cita-cita
Tanah di mata penyair adalah darah jiwa
bila ia mengalir ke dalam tubuh tumbuhan, itulah kebutuhan bagi
keberlangsungan kehidupan
Angin di mata penyair adalah angan-angan
bila ia bergerak mendekati langit jingga, itulah jarak antara
harapan dan kenyataan
Pelangi di mata penyair adalah busur hati
bila ia berpanah putih melati, itulah gambaran suatu
citra abadi
Gunungkidul, Desember 1991.
Air di mata penyair adalah kata-kata
bila ia mengalir menembus jantung gunung, itulah renungan suatu
cita-cita
Tanah di mata penyair adalah darah jiwa
bila ia mengalir ke dalam tubuh tumbuhan, itulah kebutuhan bagi
keberlangsungan kehidupan
Angin di mata penyair adalah angan-angan
bila ia bergerak mendekati langit jingga, itulah jarak antara
harapan dan kenyataan
Pelangi di mata penyair adalah busur hati
bila ia berpanah putih melati, itulah gambaran suatu
citra abadi
Gunungkidul, Desember 1991.
KEKUATAN KITA
Oleh : Margita Widiyatmaka
sejarah telah ajarkan pada kita untuk memihak matahari, yang pi-
jari perubahan rona
belajar kita padanya agar tidak gampang menyerah pada kata dan
sorot mata sebelum alam semesta terbaca
pijar kita pijar matahari
bila kita ingkar janji, matahari bakar karunia Ilahi
bila kita belajar tepati, matahari jabarkan arti
Gunungkidul, Mei 1989.
sejarah telah ajarkan pada kita untuk memihak matahari, yang pi-
jari perubahan rona
belajar kita padanya agar tidak gampang menyerah pada kata dan
sorot mata sebelum alam semesta terbaca
pijar kita pijar matahari
bila kita ingkar janji, matahari bakar karunia Ilahi
bila kita belajar tepati, matahari jabarkan arti
Gunungkidul, Mei 1989.
MENJELANG AJALMU
Oleh : Margita Widiyatmaka
Hijau daun layu ditiup angin lalu
bak hidupmu yang lesu, kehilangan darah biru
Kering embun pagi di batu yang gersang
bak hidupmu yang koma, menunggu datangnya titik hilang
Gunungkidul, Desember 1991.
Hijau daun layu ditiup angin lalu
bak hidupmu yang lesu, kehilangan darah biru
Kering embun pagi di batu yang gersang
bak hidupmu yang koma, menunggu datangnya titik hilang
Gunungkidul, Desember 1991.
TITIK-TITIK KEHIDUPAN
Oleh : Margita Widiyatmaka
Hati kecilku pelangi
dalam gigil yang sepi masih kuat bernyanyi
walau harus kehilangan cinta, aku masih pelangi
Hati kecilku kenari
dalam gigil yang sepi masih kuat menari
walau harus bosan memandang langit hati, aku masih kenari
Hati kecilku matahari
dalam gigil yang sepi masih kuat bersinar
lewat kekuatan jari-jemari Ilahi
Gunungkidul, Nopember 1991.
Hati kecilku pelangi
dalam gigil yang sepi masih kuat bernyanyi
walau harus kehilangan cinta, aku masih pelangi
Hati kecilku kenari
dalam gigil yang sepi masih kuat menari
walau harus bosan memandang langit hati, aku masih kenari
Hati kecilku matahari
dalam gigil yang sepi masih kuat bersinar
lewat kekuatan jari-jemari Ilahi
Gunungkidul, Nopember 1991.
Rabu, 27 Juli 2011
YANG RAWAN DAN PALING RAWAN
Oleh : Margita Widiyatmaka
yang rawan itu perempuan
yang paling rawan itu perawan
duduk-duduk di depan pintu rumah
menyibak-nyibak rambut kepala tetangga sebelah
horeee!
kutu satu jadi kata batu
kutu dua jadi kata duga
kutu tiga jadi kata tega
oh, tega!
perempuan atau perawan meremas-remas
kutu satu hingga tiga
yang rawan itu rambut perempuan
yang paling rawan itu rambut perawan
tunggu-tunggu kutu satu jadi kata saru
kutu dua jadi kata "duhai"
kutu tiga jadi kata iga
oh, lebih tega!
perempuan atau perawan memeras
kutu kedua hingga keempat
empat-tiga-dua isyaratkan kata "impit--iga-dua"
ji-sam-su, "jinaklah-pisang-susu"
Yogyakarta, Mei 1988.
SENANDUNG GUNUNG MENYIBAK MENDUNG
Oleh : Margita Widiyatmaka
Mari kita bicara dari hati ke hati sebelum menyesal kehilangan se-
suatu yang berarti
langit berpelangi isyaratnya, bumi berseri tempatnya
kita harus berbuat meninggikan martabat
saling mengerti tanpa dendam-kesumat
Mari kita bicara dari hati ke hati sebelum mengenal keadilan yang
sejati
langit tak pernah menjadi kanvas mati bagi lukisan persahabatan
kita yang abadi
bumi tak pernah ingkar saksi atas cinta kita yang saling menyelami
tanpa beban dan prasangka iri
Gunungkidul, Desember 1990.
Mari kita bicara dari hati ke hati sebelum menyesal kehilangan se-
suatu yang berarti
langit berpelangi isyaratnya, bumi berseri tempatnya
kita harus berbuat meninggikan martabat
saling mengerti tanpa dendam-kesumat
Mari kita bicara dari hati ke hati sebelum mengenal keadilan yang
sejati
langit tak pernah menjadi kanvas mati bagi lukisan persahabatan
kita yang abadi
bumi tak pernah ingkar saksi atas cinta kita yang saling menyelami
tanpa beban dan prasangka iri
Gunungkidul, Desember 1990.
Langganan:
Postingan (Atom)