Oleh : Margita Widiyatmaka
Sejak mengenal cinta-Mu
sajak alirkan laut tinta-Mu tergerak dari pohon pena-Mu
bijak amalkan firman-Mu tergerak cari ridha-Mu
Sejak mengenal cinta-Mu
tidak terjebak pada lautan cinta palsu
yang meminta-minta kerna ada mau
yang merintih-rintih kerna ada nafsu
kesetiaan tumbuh atas dasar kepercayaan, bukan atas dasar keterpaksaan
keberdayaan pulih atas dasar kasih, bukan atas dasar kekuasaan an sich
kebudayaan "linuwih" atas dasar melihat, menulis dan mewujudkan kasih
Sejak mengenal cinta-Mu
menatap batu bagaikan melihat sesuatu
mengeja kata, pahatan waktu
dunia terbaca, lukisan terpadu
hasrat berkaca kian terpacu
Sejak mengenal cinta-Mu
berkata "tidak" tak perlu malu, kalau memang tidak ada sesuatu
berkata "ya" tak usah ragu, kalau memang kejadian seperti itu
genderang perang bertalu-talu, gemerincing pedang siap beradu
hadang korupsi tak bulu pandang, meski sulit terpegang bagai kecoak terbang
atau kadang tersembunyi di ketiak para bintang, tertutup tali kotang
atau selendang cinta palsu yang menggoyang kemaluan kita jadi manusia hina
Gunungkidul, 24 Februari 2012
Jumat, 24 Februari 2012
Jumat, 17 Februari 2012
Belajar Sejarah Kata-Kita
Oleh : Margita Widiyatmaka
Belajar sejarah kata-kita
mengenal masa lalu dengan dada terbelah
Lihatlah batu-batu tersusun
di dalamnya ada sesuatu yang kau ngungun
Lihatlah batu-batu terbelah
di seratnya ada sebersit sinar pencerah
dimatai dari segala arah
dimaknai sebagai hakekat silsilah
silaturahmi, tidak saling salah
Lihatlah batu-batu terserak
di sela-selanya ada jejak tak mudah terlacak
Lihatlah kerajaan-kerajaan yang berjaya di Jawa
kemegahan mereka masih terpahat dan tersirat di batu-batu
Lihatlah kerajaan-kerajaan yang berjaya di Sumatra
logat mereka, sejarah kata-kita yang mengalir deras
dari Sungai Musi menuju ke Minangkabau mencipta tambo
seberangi laut ke Pulau Bintan, lalu ke Pulau Singapura
Lihatlah kerajaan Singapura
dikalahkan Majapahit, pindah ke Malaka
Lihatlah kerajaan Malaka
dikalahkan Portugis, pindah ke Johor
Lihatlah kerajaan Johor
asal-muasal buku "Sedjarah Melaju" karya Perdana Menterinya,
Tun Sri Lanang atau Datuk Bendahara
bangsa mereka merantau sebagai saudagar
membawa kata-kita ke mana-mana tersebar
lalui pantai-pantai Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, hingga Irian
bercampur rempah-rempah diperdagangkan Kompeni (VOC) yang serakah
ke seluruh Nusantara jadi bahasa perantara
Kata-kita,
oleh Gupermen Belanda "Bahasa Melaju Riau" ditasbihkan
sebagai "Bahasa Melaju asli"
oleh Konggres Pemuda Indonesia tahun 1928 diikrarkan "Berbahasa satoe Bahasa Indonesia"
oleh bangsa Indonesia tahun 1945 dijadikan bahasa resmi kata-kita
Gunungkidul, 17 Februari 2012.
Belajar sejarah kata-kita
mengenal masa lalu dengan dada terbelah
Lihatlah batu-batu tersusun
di dalamnya ada sesuatu yang kau ngungun
Lihatlah batu-batu terbelah
di seratnya ada sebersit sinar pencerah
dimatai dari segala arah
dimaknai sebagai hakekat silsilah
silaturahmi, tidak saling salah
Lihatlah batu-batu terserak
di sela-selanya ada jejak tak mudah terlacak
Lihatlah kerajaan-kerajaan yang berjaya di Jawa
kemegahan mereka masih terpahat dan tersirat di batu-batu
Lihatlah kerajaan-kerajaan yang berjaya di Sumatra
logat mereka, sejarah kata-kita yang mengalir deras
dari Sungai Musi menuju ke Minangkabau mencipta tambo
seberangi laut ke Pulau Bintan, lalu ke Pulau Singapura
Lihatlah kerajaan Singapura
dikalahkan Majapahit, pindah ke Malaka
Lihatlah kerajaan Malaka
dikalahkan Portugis, pindah ke Johor
Lihatlah kerajaan Johor
asal-muasal buku "Sedjarah Melaju" karya Perdana Menterinya,
Tun Sri Lanang atau Datuk Bendahara
bangsa mereka merantau sebagai saudagar
membawa kata-kita ke mana-mana tersebar
lalui pantai-pantai Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, hingga Irian
bercampur rempah-rempah diperdagangkan Kompeni (VOC) yang serakah
ke seluruh Nusantara jadi bahasa perantara
Kata-kita,
oleh Gupermen Belanda "Bahasa Melaju Riau" ditasbihkan
sebagai "Bahasa Melaju asli"
oleh Konggres Pemuda Indonesia tahun 1928 diikrarkan "Berbahasa satoe Bahasa Indonesia"
oleh bangsa Indonesia tahun 1945 dijadikan bahasa resmi kata-kita
Gunungkidul, 17 Februari 2012.
Senin, 13 Februari 2012
Berjalan Sejenak
Oleh : Margita Widiyatmaka
Berjalan sejenak menembus hutan kelabu
aku terjebak di kesenangan semu
senang kusedu, senang tiada kalbu
itulah senang, senang-senang sembilu
Berjalan sejenak di atas licin batu
aku terjebak di keinginan slalu
ingin kuangan, angin tiada salam
itulah ingin, ingin-ingin kelam
Berjalan sejenak di atas nisan batu
aku terjebak di hiasan malam biru
hiasan malamku luasan tak berbingkai
aku tergeletak nampak sebagai bangkai
Berjalan sejenak menembus hutan cemara
aku terjebak di kesunyian hina
sunyi kurenggut tiada bermakna
itulah sunyi, sunyi-sunyi hampa
Berjalan sejenak menembus cakrawala
meniti hidup, menata hadap
hidup tertiti, hadap tertata
Berjalan sejenak mengendus angin surga
surga kudamba, surga para penghamba
berserah-taat pada Yang Kuasa
Berjalan sejenak terdengar denting harpa
harpa terpetik sukma tergetar
cinta Sang Kholik gema sadar
Berjalan sejenak menembus hutan bambu
aku terhenyak mengusap air mataku
dosaku banyak berharap asih ampun-Mu
Gunungkidul, 13 Februari 2012
Berjalan sejenak menembus hutan kelabu
aku terjebak di kesenangan semu
senang kusedu, senang tiada kalbu
itulah senang, senang-senang sembilu
Berjalan sejenak di atas licin batu
aku terjebak di keinginan slalu
ingin kuangan, angin tiada salam
itulah ingin, ingin-ingin kelam
Berjalan sejenak di atas nisan batu
aku terjebak di hiasan malam biru
hiasan malamku luasan tak berbingkai
aku tergeletak nampak sebagai bangkai
Berjalan sejenak menembus hutan cemara
aku terjebak di kesunyian hina
sunyi kurenggut tiada bermakna
itulah sunyi, sunyi-sunyi hampa
Berjalan sejenak menembus cakrawala
meniti hidup, menata hadap
hidup tertiti, hadap tertata
Berjalan sejenak mengendus angin surga
surga kudamba, surga para penghamba
berserah-taat pada Yang Kuasa
Berjalan sejenak terdengar denting harpa
harpa terpetik sukma tergetar
cinta Sang Kholik gema sadar
Berjalan sejenak menembus hutan bambu
aku terhenyak mengusap air mataku
dosaku banyak berharap asih ampun-Mu
Gunungkidul, 13 Februari 2012
Jumat, 27 Januari 2012
Mencari Hakekat Cinta
Oleh : Margita Widiyatmaka
Jangan pernah berhenti dan menyerah
mencari hakekat cinta didalam darah
kesetiaan adalah mimpi dan harapan menuju inti kenyataan
Jangan pernah berhenti dan menyerah
mencari hakekat cinta didalam darah
jati diri adalah jalan menata hati, meniti jembatan kemuliaan
Jangan pernah berhenti dan menyerah
mencari hakekat cinta didalam darah
kesedihan, keprihatinan, mimpi dan harapan
dengan keringat dan air mata, hasrat tak pernah reda, dan semangat tak kenal lelah
engkau akan dapatkan hakekat cinta didalam darah
Gunungkidul, 27 Januari 2012
Jangan pernah berhenti dan menyerah
mencari hakekat cinta didalam darah
kesetiaan adalah mimpi dan harapan menuju inti kenyataan
Jangan pernah berhenti dan menyerah
mencari hakekat cinta didalam darah
jati diri adalah jalan menata hati, meniti jembatan kemuliaan
Jangan pernah berhenti dan menyerah
mencari hakekat cinta didalam darah
kesedihan, keprihatinan, mimpi dan harapan
dengan keringat dan air mata, hasrat tak pernah reda, dan semangat tak kenal lelah
engkau akan dapatkan hakekat cinta didalam darah
Gunungkidul, 27 Januari 2012
Hakekat Filsafat
Oleh : Margita Widiyatmaka
Tiada awal benar-benar awal
tiada akhir benar-benar akhir
semua berawal dari aku yang berakal-budi
mengenal “ada”, lebih dari yang terlihat
semua berakhir dari aku yang mengalir merasuk segala sesuatu
Tiada sebab yang benar-benar sebab
sebab yang satu disebutkan, sebab yang lain dimungkinkan
mencari heran tiada pernah tertahan
Tiada “hil” tiada hal, tiada hal tiada “hil”
tiada “hil” yang “mustahal”, tiada hal yang mustahil
semua berangkat dari “good will”, bukan kemauan terpaksa
Tiada nol benar-benar nol
semua yang terbagi nol, tak terhingga menjaring semua
menuju Ilahi, lepaskan sukma
meneladani Ilahi bersifat
mengenali dan memahami lebih dalam aku
terhindar dari keheranan yang membelenggu menjadi keheranan yang membebaskan
terhindar dari keterbatasan maknawi “ada” menjadi keluasan lautan tak bertepi berpelangi
Hakekat filsafat :
di atas langit dan di dalam bumi
pandangan kita terbatas atasi ketinggian, selami kedalaman
misteri ada dibalik pelangi
rindukan harkat-martabat
jauhkan dosa, dekatkan rahmat dan ampunan
kenali kelemahan menuju kekuatan
sadari kekurangan menuju kesempurnaan
pengabdian suci, dunia-akhirat
Gunungkidul, 26 Januari 2012.
Tiada awal benar-benar awal
tiada akhir benar-benar akhir
semua berawal dari aku yang berakal-budi
mengenal “ada”, lebih dari yang terlihat
semua berakhir dari aku yang mengalir merasuk segala sesuatu
Tiada sebab yang benar-benar sebab
sebab yang satu disebutkan, sebab yang lain dimungkinkan
mencari heran tiada pernah tertahan
Tiada “hil” tiada hal, tiada hal tiada “hil”
tiada “hil” yang “mustahal”, tiada hal yang mustahil
semua berangkat dari “good will”, bukan kemauan terpaksa
Tiada nol benar-benar nol
semua yang terbagi nol, tak terhingga menjaring semua
menuju Ilahi, lepaskan sukma
meneladani Ilahi bersifat
mengenali dan memahami lebih dalam aku
terhindar dari keheranan yang membelenggu menjadi keheranan yang membebaskan
terhindar dari keterbatasan maknawi “ada” menjadi keluasan lautan tak bertepi berpelangi
Hakekat filsafat :
di atas langit dan di dalam bumi
pandangan kita terbatas atasi ketinggian, selami kedalaman
misteri ada dibalik pelangi
rindukan harkat-martabat
jauhkan dosa, dekatkan rahmat dan ampunan
kenali kelemahan menuju kekuatan
sadari kekurangan menuju kesempurnaan
pengabdian suci, dunia-akhirat
Gunungkidul, 26 Januari 2012.
Pohon Rindu
Oleh : Margita Widiyatmaka
Pohon rindu yang dulu aku tanam, kini berbuah iman
walau sempat termangu hadapi keadaan
walau sempat terganggu hama kehidupan
walau sempat malu nampakkan kesadaran
engkau tetap tegar dan kuat akar
diterpa badai, tak patah
digerus air, tak rebah
Pohon rindu yang dulu aku tanam, kini jadi hiasan di Taman Keabadian
walau sempat terkotori berbagai tahi hewan
walau sempat dikencingi anak-anak jalanan
walau sempat dimaki kekukuhanmu sebagai keangkuhan
engkau tetap segar, harum kesturi
dibelai-belai, batang-ranting tak berduri
digoyang-gaying, tahan lenting, tegak berdiri
tiada kata tuntas melukiskanmu, kerna kesetiaanmu merindu tak pernah berubah
walau godaan beruah-ruah dan gangguan para bedebah
apa saja, kapan saja, dimana saja; engkau tetap ibadah
Gunungkidul, 27 Januari 2012
Pohon rindu yang dulu aku tanam, kini berbuah iman
walau sempat termangu hadapi keadaan
walau sempat terganggu hama kehidupan
walau sempat malu nampakkan kesadaran
engkau tetap tegar dan kuat akar
diterpa badai, tak patah
digerus air, tak rebah
Pohon rindu yang dulu aku tanam, kini jadi hiasan di Taman Keabadian
walau sempat terkotori berbagai tahi hewan
walau sempat dikencingi anak-anak jalanan
walau sempat dimaki kekukuhanmu sebagai keangkuhan
engkau tetap segar, harum kesturi
dibelai-belai, batang-ranting tak berduri
digoyang-gaying, tahan lenting, tegak berdiri
tiada kata tuntas melukiskanmu, kerna kesetiaanmu merindu tak pernah berubah
walau godaan beruah-ruah dan gangguan para bedebah
apa saja, kapan saja, dimana saja; engkau tetap ibadah
Gunungkidul, 27 Januari 2012
Sabtu, 21 Januari 2012
Bola-bali, pola-poli
Oleh : Margita Widiyatmaka
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
barang kita beli belang, tak bisa ditukar kembali
semangat kita hilang, sulit berprestasi
cermat kita kurang, kesalahan terjadi
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang
dari batu ke batu, dari batang ke batang
kita jadi hantu bergentayang
terpengaruh ratu cenayang
perasaan seteru slalu terpampang
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
bola kita dalamnya tak bulat menarik hati
kerna politik kepentingan mainkannya
tak pernah tergelitik lambungkannya
orang gila bola di mana-mana
orang gilas bola leluasa berkuasa
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
pola kita banyak, tak kita kenali
gila kita banyak, tak terkendali
Gunungkidul, 21 Januari 2012
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
barang kita beli belang, tak bisa ditukar kembali
semangat kita hilang, sulit berprestasi
cermat kita kurang, kesalahan terjadi
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang
dari batu ke batu, dari batang ke batang
kita jadi hantu bergentayang
terpengaruh ratu cenayang
perasaan seteru slalu terpampang
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
bola kita dalamnya tak bulat menarik hati
kerna politik kepentingan mainkannya
tak pernah tergelitik lambungkannya
orang gila bola di mana-mana
orang gilas bola leluasa berkuasa
Bola-bali, pola-poli, berulang-ulang, berkali-kali
pola kita banyak, tak kita kenali
gila kita banyak, tak terkendali
Gunungkidul, 21 Januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)